Kata seseorang, waktu fajar adalah yang terbaik untuk menuang sendu.

Hanya ada raga dan emosi yang mengisi malam dan menembus sepi. Dingin pun enggan mengusik kala akal sehat telah hilang dan yang tinggal hanya sesal dan sesak di dada.

Kala fajar datang dan topeng sang raga terlepas pasrah, berserah diri dalam kalut dengan derai air mata.

Sunyi.

Hanya isak tangis pilu yang memecah malam dalam heningnya fajar. Purnama pun iba melihat hati dan raga yang hancur berkeping-keping.

Fajar telah menyapu api yang pernah membara dan hanya menyisakan keputusasaan. Tak ada lagi kuasa untuk berperan dalam panggung kehidupan yang jenaka ini.

Rapuh bahkan tak tepat menjadi identitas sang raga,

ketika hanya hampa dan hancur yang tersisa dalam diri.

--

--

6 AM in the morning.

The beauty of the birds chirping slowly wake the universe up.

How the glimpse of the sunshine shyly creates an elegant silhouette on the wall of comfort zone. Through the not-so-huge window inside the 4 walls, we stare straight into the sun.

Have you, in your wildest thought and sanity, ever got jealous over the sun?

To be beautifully powerful and have the ability to give hope and strength to so many lives.

To be pain-free and to shine bright unstoppably every single day, give lights consistently to those who do not even bother to care.

To be persistent, stand still, and stay fearless even when the situation gone bad with the storms and lightnings interfered in between.

To be the one whose existence is expected by a lot of individuals.

How does it feel like?

--

--

Ghina Zahirah

Ghina Zahirah

pouring tears and laughter into words happens to become a habit